Daftar Pura di Bali Paling Instagramable

Bali selalu punya cara unik untuk membuat siapa pun jatuh cinta. Dari pantai, budaya, sampai kuliner, semuanya menarik untuk diabadikan. Tapi ada satu hal yang sering menjadi favorit traveler dunia: pura di Bali.

Menariknya, beberapa pura memiliki tampilan yang begitu fotogenik sampai-sampai hasil fotomu bisa terlihat seperti diambil fotografer profesional—even kalau kamu hanya pakai ponsel.

Yang bikin berbeda, setiap pura punya cerita, suasana, dan cahaya alami yang bisa berubah-ubah sepanjang hari. Dan dari sekian banyaknya, inilah 10 pura di Bali paling Instagramable, tempat-tempat yang bisa membuat feed kamu terlihat jauh lebih estetik.

Pura Lempuyang – Gate of Heaven

Pura Lempuyang terletak di Kabupaten Karangasem, tepatnya di lereng Gunung Lempuyang. Untuk mencapai lokasi utama “Gate of Heaven”, pengunjung perlu menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kawasan wisata seperti Ubud atau Denpasar. Akses ke pura sudah cukup baik, dan kendaraan dapat diparkir sebelum menaiki beberapa anak tangga menuju pelataran gerbang suci. Meski berada di dataran tinggi, jalurnya tetap aman bagi semua usia. Setibanya di atas, pengunjung biasanya akan mengikuti antrean foto yang dikelola oleh petugas lokal—proses yang sudah tertata rapi.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari antara pukul 06.00–09.00 untuk mendapatkan cahaya lembut dan pemandangan Gunung Agung yang biasanya lebih jelas sebelum terbentuk kabut. Jika ingin suasana lebih dramatis, sore hari juga memberikan warna langit yang hangat. Untuk biaya, Pura Lempuyang tidak memiliki tiket resmi yang ketat, namun wisatawan biasanya memberikan donasi sukarela, serta menyewa kain sarung jika tidak membawa sendiri. Biaya totalnya tergolong terjangkau dan mendukung pemeliharaan area pura. Pengunjung juga dapat menggunakan jasa ojek lokal untuk naik lebih cepat, tergantung kebijakan terbaru di lapangan.

Secara sejarah, Pura Lempuyang adalah salah satu pura tertua di Bali dan menjadi bagian dari Sad Kahyangan, yakni enam pura utama penjaga pulau. Pura ini dipercaya sebagai tempat pemujaan Dewa Iswara, penjaga arah timur. Keberadaannya sudah ada jauh sebelum berkembangnya kerajaan-kerajaan Bali kuno, menjadikannya situs spiritual yang sangat penting. Keunikan inilah yang membuat Gate of Heaven bukan hanya cantik untuk difoto, tetapi juga memiliki nilai budaya dan religius yang sangat luhur, sehingga setiap kunjungan terasa penuh makna.

Pura Ulun Danu Beratan

Pura Ulun Danu Beratan berada di kawasan Bedugul, sekitar 1,5 jam dari Denpasar atau Ubud melalui jalan pegunungan yang sejuk dan dikelilingi hutan. Akses menuju kawasan pura sangat mudah karena berada tepat di tepi jalan utama Bedugul. Sesampainya di area parkir, pengunjung hanya perlu berjalan kaki beberapa menit untuk mencapai sisi danau tempat pura utama berada. Lanskapnya yang terbuka membuat semua spot foto mudah diakses tanpa harus menempuh jalur menanjak atau tangga yang berat—cocok untuk keluarga atau traveler yang ingin pengalaman santai.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari sekitar pukul 07.00–09.00 ketika kabut masih turun tipis di atas danau. Pagi hari juga memberikan cahaya lembut yang membuat foto terlihat seperti lukisan. Jika ingin nuansa yang lebih cerah, siang hari saat cuaca bagus juga menjadi pilihan, tetapi jumlah pengunjung biasanya lebih ramai. Untuk biaya, tiket masuk Pura Ulun Danu Beratan umumnya berkisar Rp 30.000–Rp 50.000 untuk wisatawan domestik dan berbeda untuk wisatawan mancanegara, bergantung pada kebijakan terbaru. Tiket sudah termasuk akses ke seluruh area taman, spot foto, danau, dan lingkungan sekitar pura.

Pura Ulun Danu Beratan dibangun pada abad ke-17 sebagai tempat pemujaan Dewi Danu, dewi penguasa air dan danau yang menjadi sumber irigasi penting bagi masyarakat Bali. Karena Danau Beratan merupakan salah satu cadangan air terbesar di dataran tinggi Bali, pura ini memiliki peran sakral dalam sistem Subak dan kehidupan pertanian. Arsitekturnya yang mengapung di atas danau membuat pura ini terlihat seperti menyatu dengan alam—tidak hanya menambah nilai estetik, tetapi juga menggambarkan kedekatan spiritual masyarakat Bali dengan air sebagai sumber kehidupan.

Pura Uluwatu

Pura Uluwatu terletak di ujung barat daya Bali, sekitar 45–60 menit dari Kuta, Seminyak, maupun Jimbaran. Aksesnya sangat mudah karena sudah dilengkapi dengan jalan raya besar dan area parkir yang luas. Dari parkiran, pengunjung perlu berjalan sekitar 5–10 menit melalui jalur setapak yang aman dan sudah ditata rapi. Di sepanjang jalur menuju tebing, traveler dapat menikmati pemandangan laut biru dan merasakan angin kencang khas kawasan tinggi. Pengunjung juga perlu berhati-hati dengan monyet yang berkeliaran di area pura, karena mereka cukup aktif dan suka mengambil barang yang menggantung.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Uluwatu adalah menjelang sunset, sekitar pukul 16.30–18.00. Cahaya matahari yang turun perlahan membuat langit berubah menjadi oranye keemasan—momen yang paling ditunggu fotografer dan wisatawan. Selain pemandangan sunset, pertunjukan Tari Kecak biasanya berlangsung pada sore hari, sehingga kunjunganmu bisa lebih maksimal. Untuk biaya masuk, tiket domestik biasanya berada di kisaran Rp 30.000–Rp 50.000, sementara wisatawan mancanegara dikenakan tarif berbeda. Tiket untuk pertunjukan Kecak dikenakan biaya terpisah, umumnya sekitar Rp 150.000–Rp 200.000, tergantung musim dan kebijakan terbaru.

Secara sejarah, Pura Uluwatu termasuk salah satu Sad Kahyangan Jagat, pura paling suci yang menjadi penyangga spiritual Pulau Bali. Pura ini dipercaya didirikan oleh Empu Kuturan pada abad ke-11 dan kemudian dikembangkan oleh pendeta suci Dang Hyang Nirartha di abad ke-16. Konon, beliau mencapai moksa (menghilang secara spiritual) di kawasan tebing pura ini. Lokasinya yang berada 70 meter di atas permukaan laut bukan hanya membuatnya sangat indah, tetapi juga mencerminkan posisi pentingnya sebagai penjaga arah barat daya Bali—tempat bertemunya elemen angin, laut, dan kekuatan alam yang sakral.

Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot berada di kawasan Beraban, Tabanan, sekitar 45 menit–1 jam dari Kuta, Seminyak, dan Canggu. Akses menuju lokasi sangat mudah karena jalannya sudah lebar, dilengkapi papan petunjuk, dan tersedia area parkir yang luas untuk mobil maupun bus pariwisata. Dari gerbang masuk, pengunjung cukup berjalan santai melewati deretan toko oleh-oleh sebelum tiba di area tebing dan pantai tempat pura utama berada. Saat air laut surut, pengunjung bisa mendekat hingga ke dasar karang pura, sedangkan saat pasang, pura tampak mengapung dan menciptakan pemandangan yang dramatis.

Waktu terbaik berkunjung ke Tanah Lot adalah sore hari menjelang sunset, antara pukul 17.00–18.30. Matahari yang terbenam tepat di belakang siluet pura menciptakan warna langit keemasan hingga jingga pekat—momen yang sulit dilewatkan oleh fotografer dan wisatawan. Jika ingin suasana yang lebih tenang untuk menikmati pemandangan karang dan garis pantai, datanglah pagi hari sekitar pukul 07.00–09.00. Untuk biaya masuk, tiket domestik umumnya berada di kisaran Rp 20.000–Rp 30.000, sedangkan wisatawan mancanegara memiliki tarif berbeda. Tiket sudah termasuk akses penuh ke area pantai, jalur tebing, serta spot-spot foto utama yang aman untuk dikunjungi.

Secara historis, Pura Tanah Lot dipercaya dibangun pada abad ke-16 oleh pendeta suci Dang Hyang Nirartha, sosok penting dalam penyebaran ajaran Hindu di Bali. Beliau menemukan batu karang besar yang dikelilingi ombak dan menganggapnya sebagai tempat sakral yang memiliki energi kuat. Di sinilah ia mengajarkan nilai spiritual kepada masyarakat setempat sebelum melanjutkan perjalanan. Keunikan lokasi, legenda ular suci penjaga pura, serta posisinya yang menghadap langsung ke samudra membuat Tanah Lot menjadi salah satu pura paling ikonik di Bali. Tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna dan sejarah yang hidup sampai sekarang.

Pura Gunung Kawi Sebatu

Pura Gunung Kawi Sebatu terletak di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, sekitar 30–40 menit dari Ubud. Akses menuju pura ini cukup mudah karena jalannya sudah diaspal dan bisa dilalui mobil maupun motor. Sesampainya di area parkir, pengunjung hanya perlu berjalan beberapa menit menuruni tangga yang tidak terlalu curam untuk mencapai area pura. Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan melihat kolam-kolam jernih yang dipenuhi ikan dan pepohonan tinggi yang meneduhkan. Suasananya sangat tenang, cocok untuk wisatawan yang ingin merasakan sisi Bali yang lebih damai dan jauh dari keramaian.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Gunung Kawi Sebatu adalah pagi menjelang siang, sekitar pukul 09.00–11.00. Pada jam-jam inilah fenomena cahaya emas alami terjadi—ketika sinar matahari masuk melalui celah dedaunan dan jatuh tepat ke permukaan kolam. Momen ini membuat foto terlihat seperti memiliki spotlight alami yang hangat dan lembut. Jika ingin suasana yang lebih hening, datanglah lebih pagi ketika udara masih sangat segar. Untuk biaya, tiket masuk untuk wisatawan domestik biasanya berada di kisaran Rp 15.000–Rp 30.000, sedangkan wisatawan mancanegara memiliki tarif tersendiri. Pengunjung juga diwajibkan mengenakan sarung, yang biasanya tersedia gratis atau dengan biaya sewa kecil.

Pura Gunung Kawi Sebatu diperkirakan dibangun pada abad ke-11 sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, dewa penjaga air. Karena wilayah Sebatu dikenal memiliki sumber air yang sangat jernih, masyarakat Bali menghormati area ini sebagai lokasi suci yang melambangkan kesucian dan kehidupan. Kolam-kolam yang ada di dalam pura bukan hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai bagian dari ritual pemurnian yang sudah dilakukan sejak zaman kerajaan Bali kuno. Keunikan arsitektur, air yang bening, serta suasana hutan yang menenangkan membuat pura ini menjadi salah satu hidden gem paling spiritual dan fotogenik di Bali.

Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun berada di Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 30–40 menit dari Denpasar, Kuta, ataupun Canggu. Akses menuju lokasi sangat mudah karena jalannya besar dan banyak petunjuk arah. Setibanya di area parkir, pengunjung hanya perlu berjalan sebentar melewati gerbang utama untuk memasuki kompleks pura. Area ini sangat rapi dan luas, dengan jalur pejalan kaki yang tertata serta taman hijau yang terpelihara. Karena tidak ada jalur menanjak atau tangga curam, Pura Taman Ayun tergolong ramah untuk keluarga, anak-anak, maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana tanpa banyak berjalan.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Taman Ayun adalah pagi hari sekitar pukul 08.00–10.00 saat cahaya masih lembut dan suasana belum terlalu ramai. Pada waktu ini, meru bertingkat terlihat lebih jelas dan bayangan bangunan tidak terlalu keras, membuat hasil foto tampak lebih estetik. Sore hari menjelang sunset juga menjadi pilihan bagus karena cahaya kuning keemasan memberikan nuansa hangat pada pelataran pura dan taman. Untuk biaya masuk, tiket domestik biasanya berada di kisaran Rp 15.000–Rp 30.000, sementara wisatawan mancanegara dikenakan tarif berbeda. Sarung umumnya tersedia di pintu masuk tanpa biaya tambahan.

Pura Taman Ayun dibangun pada tahun 1634 oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, sebagai pura keluarga kerajaan dan simbol kejayaan Mengwi pada masanya. Nama “Taman Ayun” berarti “taman yang indah,” dan memang sejak awal kawasan ini dirancang sebagai tempat suci yang dikelilingi kolam layaknya taman air kerajaan. Keberadaan meru bertingkat dan arsitektur khas Bali menunjukkan pentingnya pura ini sebagai pusat kegiatan keagamaan dan spiritual kerajaan Mengwi. Hingga kini, Pura Taman Ayun tetap menjadi salah satu pura paling indah dan terawat di Bali—kombinasi sempurna antara sejarah, ketenangan, dan visual yang memanjakan mata.

Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul berlokasi di Desa Manukaya, Tampaksiring, sekitar 30 menit dari Ubud. Akses menuju pura sangat mudah karena jalannya sudah lebar dan berada dekat Istana Kepresidenan Tampaksiring. Area parkirnya luas, sehingga bus pariwisata maupun mobil pribadi tidak mengalami kesulitan. Dari pintu masuk, pengunjung akan berjalan melewati area pasar kecil sebelum memasuki kawasan pura. Jalurnya datar dan tidak melelahkan, cocok untuk keluarga atau wisatawan yang ingin menikmati pengalaman spiritual tanpa harus menempuh jalur menanjak. Di dalam area, pengunjung akan menemukan kolam pemurnian dan pancuran yang menjadi spot utama melukat.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Tirta Empul adalah pagi hari, sekitar pukul 07.00–10.00. Pada jam tersebut, suasana masih tenang dan air pancuran terlihat lebih jernih, sehingga cocok untuk mengambil foto sekaligus mengikuti prosesi melukat. Jika ingin suasana yang lebih damai, datanglah di hari biasa (bukan hari libur atau hari suci Hindu), karena pada hari besar pura ini bisa sangat ramai. Untuk biaya, tiket masuk domestik biasanya berada di kisaran Rp 15.000–Rp 30.000, sementara wisatawan mancanegara dikenakan tarif lebih tinggi. Sarung dan selendang wajib digunakan, dan biasanya disediakan gratis di pintu masuk. Bila ingin ikut melukat, disarankan membawa pakaian ganti.

Secara sejarah, Pura Tirta Empul dibangun pada tahun 962 Masehi pada masa Raja Sri Candrasingha dari Dinasti Warmadewa. Nama “Tirta Empul” berarti “mata air suci yang mengalir,” dan benar saja—mata air besar di tengah pura ini dipercaya muncul secara alami sebagai simbol kesucian dan pembersihan diri. Legenda setempat menceritakan bahwa mata air ini diciptakan oleh Dewa Indra untuk melawan raja jahat Mayadenawa. Hingga kini, pura ini tetap menjadi salah satu pusat ritual pemurnian terbesar di Bali dan masih aktif digunakan oleh masyarakat Hindu lokal, menjadikannya tempat yang penuh kehidupan spiritual dan budaya.

Pura Besakih

Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Karangasem, sekitar 1,5–2 jam dari Ubud, Sanur, atau Denpasar. Akses menuju pura sudah sangat baik, dengan jalan beraspal dan petunjuk arah yang jelas. Setibanya di area parkir utama, pengunjung akan dibantu shuttle resmi menuju pintu gerbang kompleks pura, sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman. Dari gerbang utama, pengunjung perlu berjalan kaki melalui jalur menanjak yang tidak terlalu berat, dikelilingi pemandangan Gunung Agung yang megah. Karena kompleksnya sangat luas dan terdiri dari banyak halaman serta pura kecil, disarankan untuk menyiapkan stamina dan mengenakan alas kaki yang nyaman.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Besakih adalah pagi hari sekitar pukul 07.00–10.00 ketika cuaca cerah dan pemandangan Gunung Agung terlihat jelas sebelum tertutup kabut. Selain itu, pagi hari membuat aktivitas sembahyang masyarakat setempat terlihat alami dan menambah pengalaman budaya yang menarik. Jika ingin suasana lebih hangat untuk foto, datang pada sore hari menjelang sunset. Untuk biaya, tiket masuk biasanya berkisar Rp 60.000–Rp 90.000 untuk wisatawan domestik dan berbeda untuk wisatawan mancanegara. Harga tiket ini sudah termasuk shuttle wajib dan penggunaan sarung. Jika ingin tur dengan pemandu lokal, traveler dapat menggunakan jasa guide resmi dengan biaya tambahan.

Secara sejarah, Pura Besakih dikenal sebagai “Mother Temple of Bali”, pura terbesar dan paling suci di Pulau Bali. Kompleks ini diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-8, jauh sebelum berkembangnya kerajaan-kerajaan Bali klasik. Pura ini dipersembahkan untuk Dewa Siwa sebagai manifestasi tertinggi dalam kepercayaan Hindu Bali, namun di dalamnya terdapat banyak pura keluarga, pura kerajaan, dan area pemujaan untuk berbagai dewa. Letaknya di lereng Gunung Agung juga dianggap sangat sakral karena gunung ini diyakini sebagai pusat energi dan tempat bersemayam para dewa. Hingga kini, Pura Besakih tetap aktif digunakan untuk upacara besar, termasuk upacara Eka Dasa Rudra yang hanya digelar setiap 100 tahun.

Pura Taman Saraswati Ubud

Pura Taman Saraswati terletak tepat di pusat Ubud, hanya beberapa langkah dari Jalan Raya Ubud dan sangat mudah diakses oleh pejalan kaki. Pengunjung bisa masuk melalui jalan setapak yang melewati kolam teratai di kiri dan kanan, menciptakan pemandangan yang ikonik sebelum mencapai pelataran utama pura. Aksesnya dapat ditempuh menggunakan motor, mobil, atau bahkan berjalan kaki jika Anda menginap di area Ubud. Tempat parkir umumnya tersedia di area sekitar café dan toko-toko sekitar, meski agak terbatas pada jam sibuk.

Waktu terbaik berkunjung ke Pura Saraswati adalah pagi hari sekitar pukul 08.00–10.00 ketika cahaya matahari lembut dan belum terlalu ramai. Sore hari menjelang golden hour juga menjadi pilihan ideal untuk mendapatkan foto dengan warna yang hangat. Untuk biaya, masuk ke area depan pura (kolam teratai dan halaman luar) biasanya gratis, namun ada kemungkinan donasi sukarela atau biaya tiket kecil jika ingin memasuki area tertentu atau ketika ada pertunjukan tari tradisional di malam hari.

Secara historis, Pura Taman Saraswati dibangun pada awal abad ke-20 oleh arsitek legendaris Bali, I Gusti Nyoman Lempad, atas perintah Raja Ubud saat itu. Pura ini didedikasikan untuk Dewi Saraswati, dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Itulah sebabnya desainnya dipenuhi detail artistik, ukiran cantik, serta kolam teratai yang merepresentasikan kesucian dan kejernihan pikiran. Hingga kini, pura ini bukan hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga ikon estetika Ubud yang memikat wisatawan dari seluruh dunia.

Pura Goa Gajah

Goa Gajah terletak di kawasan Bedulu, Gianyar, sekitar 10 menit berkendara dari pusat Ubud. Akses menuju lokasi sangat mudah, dengan area parkir yang cukup luas untuk motor maupun mobil. Dari tempat parkir, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga sebelum mencapai area pura dan goa utama. Jalurnya cukup tertata, melewati taman hijau dan aliran sungai kecil yang menambah suasana sejuk. Pengunjung biasanya masuk melalui gerbang tiket resmi, lalu mengikuti jalur setapak yang sudah disiapkan hingga ke mulut goa yang ikonik berbentuk wajah raksasa.

Waktu terbaik berkunjung ke Goa Gajah adalah pagi hari antara pukul 08.00–10.00 saat kondisi masih sepi dan cahaya matahari lebih lembut untuk foto. Jika ingin suasana lebih tenang, kunjungan di sore hari sekitar pukul 16.00 juga nyaman, karena wisatawan mulai berkurang dan cuaca tidak terlalu panas. Biaya masuk ke Goa Gajah umumnya sangat terjangkau—biasanya berkisar belasan hingga puluhan ribu rupiah—dan sudah termasuk penggunaan selendang (kain) yang wajib dipakai sebagai bentuk penghormatan saat memasuki area suci.

Secara historis, Goa Gajah diperkirakan dibangun pada abad ke-11 pada masa Kerajaan Bali Kuno. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat pertapaan dan pusat kegiatan spiritual bagi para pendeta Hindu dan Buddha, terbukti dari adanya arca Ganesha, lingga-yoni, serta fragmen Buddha di area sekitarnya. Ukiran wajah raksasa di pintu goa sering disebut sebagai simbol perlindungan dari roh jahat, dan hingga kini menjadi daya tarik utama wisatawan. Kombinasi nilai sejarah, seni ukir kuno, dan suasana spiritual membuat Goa Gajah menjadi salah satu situs budaya paling unik di Bali.

Shopping Cart