Pura Luhur Uluwatu: Sejarah, Daya Tarik, dan Harga Tiket Terbaru untuk Wisatawan

Setiap hari, ribuan wisatawan datang ke Pura Luhur Uluwatu untuk menikmati kombinasi unik antara keindahan alam, budaya Bali, dan atmosfer spiritual yang kuat. Pura ini berdiri kokoh di atas tebing tinggi yang langsung menghadap ke Samudra Hindia. Panorama sunsetnya selalu memikat siapa pun yang melihatnya. Banyak wisatawan bahkan menyebut Uluwatu sebagai tempat paling dramatis di Bali — dan itu bukan tanpa alasan.

Sejarah Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu diperkirakan berdiri sejak abad ke-10 pada masa pemerintahan raja-raja dari Dinasti Warmadewa. Pada masa itu, seorang tokoh suci bernama Mpu Kuturan datang ke Bali dan memperkenalkan sistem desa adat serta konsep Tri Kahyangan, yang sampai sekarang menjadi dasar struktur pura di Bali. Beliau dipercaya sebagai tokoh pertama yang menetapkan Uluwatu sebagai lokasi suci penjagaan arah barat daya pulau Bali.

Memasuki abad ke-11, pendeta besar Dang Hyang Nirartha tiba di Bali dan melanjutkan penyempurnaan pura ini. Beliau membangun pelinggih utama serta memperkuat fungsi religius Uluwatu sebagai tempat pemujaan Dewa Rudra — salah satu manifestasi Dewa Siwa. Dalam tradisi Bali, Dang Hyang Nirartha dipercaya mencapai moksa di Uluwatu, yaitu menyatu dengan alam secara spiritual tanpa meninggalkan jasad. Kepercayaan ini menjadikan Uluwatu sebagai pura yang sangat sakral dan dihormati.

Selama berabad-abad, masyarakat Bali terus merawat dan menjaga pura ini. Letaknya yang berada di atas tebing setinggi lebih dari 70 meter membuatnya tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai strategis sebagai tempat penjagaan simbolis terhadap kekuatan alam dari arah laut. Hingga kini, Pura Luhur Uluwatu menjadi salah satu dari Sad Kahyangan, yaitu enam pura utama penjaga keseimbangan Bali.

Lokasi dan Cara Menuju Pura Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Anda bisa mencapai pura ini dalam waktu sekitar 40–60 menit.

Anda bisa mengikuti rute berikut:

  1. Dari bandara, ikuti jalur By Pass Ngurah Rai menuju Jimbaran.
  2. Ambil arah ke Jl. Uluwatu.
  3. Ikuti Jl. Raya Uluwatu hingga mencapai area Pecatu dan mengikuti papan penunjuk menuju Pura.

Jika Anda ingin menghindari keramaian, datanglah lebih awal atau sekitar pukul 16.00 agar bisa menikmati suasana sebelum matahari terbenam.

Daya Tarik Utama Pura Uluwatu

• Pemandangan Tebing dan Laut yang Ikonik

Pura Uluwatu berdiri di atas tebing setinggi lebih dari 70 meter. Ketika ombak besar Samudra Hindia menghantam dasar tebing, Anda akan melihat pemandangan yang sangat dramatis. Hampir semua pengunjung langsung mengeluarkan kamera ketika berdiri di titik-titik tebing yang menghadap ke pura.

• Atmosfer Spiritual yang Kuat

Ketika melangkah melewati gerbang utama pura, Anda akan langsung merasakan energi sakral yang menyelimuti kawasan ini. Para penjaga pura menjaga tradisi dengan ketat, dan mereka memastikan setiap pengunjung mematuhi tata krama, seperti memakai sarong, berbicara sopan, serta menjaga kesucian area pura.

• Habitat Monyet yang Unik

Ratusan monyet liar tinggal di sekitar pura. Banyak wisatawan merasa terhibur dengan aksi lucu mereka, namun Anda tetap harus berhati-hati karena monyet di sini sangat cerdik dan sering mengambil barang-barang seperti kacamata, topi, atau botol minuman.

• Pertunjukan Tari Kecak Saat Sunset

Tari Kecak Uluwatu menjadi magnet terbesar bagi wisatawan. Ketika matahari mulai turun, puluhan penari laki-laki membentuk lingkaran dan menampilkan nyanyian “cak-cak-cak” yang menggema kuat. Latar langit jingga dan garis horizon laut membuat pertunjukan ini terasa luar biasa dramatis.

Harga Tiket Pura Uluwatu

Tiket Masuk Pura Uluwatu

  • Domestik Dewasa: Rp 30.000
  • Domestik Anak: Rp 20.000
  • Mancanegara Dewasa: Rp 50.000
  • Mancanegara Anak: Rp 30.000

Tiket Tari Kecak Uluwatu

  • Dewasa: Rp 150.000
  • Anak: Rp 75.000

Jam Buka: 07.00 – 19.00 WITA
Jadwal Tari Kecak: 18.00 WITA

Tips Penting Saat Berkunjung ke Pura Uluwatu

  • Gunakan kamben dan selendang yang disediakan di pintu masuk.
  • Simpan barang-barang Anda dengan aman agar tidak diambil monyet.
  • Datanglah sekitar pukul 16.00–17.00 untuk menikmati panorama sunset sekaligus mendapatkan tempat terbaik menonton Tari Kecak.
  • Hormati area sakral dan ikuti instruksi petugas.

Pura Luhur Uluwatu menawarkan pengalaman yang sulit Anda temukan di tempat lain. Anda bisa menikmati pemandangan alam yang megah, merasakan suasana spiritual khas Bali, berinteraksi dengan monyet liar, hingga menyaksikan pertunjukan budaya paling ikonik di Bali — semuanya dalam satu kunjungan.

Tidak heran jika Pura Uluwatu selalu menjadi salah satu destinasi favorit baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Jika Anda berencana datang ke Bali, masukkan Uluwatu ke daftar teratas perjalanan Anda.

Pura Uluwatu hanyalah salah satu dari banyak pura megah di Pulau Dewata. Temukan lebih banyak rekomendasi di daftar pura Bali yang paling ikonik.

FAQ -Pura Uluwatu

1. Di mana lokasi Pura Luhur Uluwatu?

Pura Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

2. Apa waktu terbaik untuk berkunjung?

Waktu terbaik adalah pukul 16.00–18.00 agar bisa menikmati sunset dan menonton Tari Kecak.

3. Apakah wajib memakai Kamben?

Ya, setiap pengunjung wajib memakai Kamben dan selendang. Pihak pura menyediakannya secara gratis di pintu masuk.

4. Bagaimana dengan monyet di sekitar pura?

Monyet di Uluwatu cukup agresif, jadi simpan barang berharga seperti kacamata, topi, dan makanan di dalam tas.

5. Apakah tiket tari kecak sudah termasuk tiket masuk pura?

Belum. Tiket tari kecak dibeli terpisah dari tiket masuk pura.

6. Apakah bisa membeli tiket secara online?

Beberapa penyedia tur dan platform tiket menawarkan pembelian online, tetapi Anda juga bisa membeli langsung di lokasi.

Keranjang Belanja